Senin, 29 Desember 2008

Pesan Pemimpin Besar Revolusi Islam Ayatollah Al-Udzma Sayid Ali Khamenei




Bismillahirrahmanirrahim
Innalillahi wa Inna ilahi raji'un.

Kejahatan besar yang dilakukan Rezim Zionis Israel di Gaza dan pembantaian ratusan warga; laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tertindas, sekali lagi menunjukkan wajah bengis serigala-serigala zionis yang haus darah dan membuka kedoknya yang selama bertahun-tahun tersembunyi di balik tabir kedustaan. Kejahatan ini sekaligus menjadi peringatan bagi mereka yang lalai dan para pencari ‘damai', akan bahaya besar dari kehadiran kelompok kafir harbi ini di jantung negeri umat Islam. Duka yang ditimbulkan oleh pembantaian sadis ini sangat memukul hati setiap insan Muslim, bahkan menyentak siapa saja yang memiliki hati nurani dan kehormatan, di manapun dia berada. Akan tetapi duka yang lebih besar dari itu adalah sikap bungkam bernuansa dorongan yang ditunjukkan oleh sejumlah rezim Arab dan yang mengaku menjadi bagian dari dunia Islam. Bukankah para penguasa negeri-negeri Muslim sepatutnya membela warga Gaza yang tertindas dan berhadap-hadapan dengan rezim perampas, kafir dan agresor, bukan malah menunjukkan sikap yang membuat para pejabat zionis menyebut mereka sebagai pihak yang setuju dengan kejahatan besar itu. Adakah petaka yang lebih besar dari ini?

Jawaban apa yang bakal diberikan kelak oleh para penguasa negara-negara itu ketika mereka berhadapan dengan Rasulullah SAW? Jawaban apakah yang bisa mereka berikan kepada rakyat mereka sendiri yang sudah pasti tengah berkabung atas terjadinya tragedi ini? Sudah pasti hati rakyat Mesir, Jordania dan negara-negara Islam tengah terpanggang menyaksikan pembantaian besar terhadap warga
Gaza yang sebelum ini telah mengalami blokade berkepanjangan tanpa adanya suplai makanan dan obat-obatan.

Pemerintahan Bush yang telah melakukan banyak kejahatan, di hari-hari akhir kekuasaannya yang penuh cela kian menenggelamkan rezim Amerika Serikat ke dalam nista dengan keterlibatannya dalam pembantaian ini. Peristiwa Gaza semakin mempertebal berkas kejahatan perang pemerintahan Bush. Rezim-rezim Eropa kembali membuktikan kebohongan klaim-klaim mereka tentang Hak Asasi Manusia dengan sikapnya yang tak peduli bahkan mendukung terjadinya pembantaian besar ini. Sekali lagi mereka membuktikan bahwa mereka berada di barisan front yang memusuhi Islam dan umat Muslim.

Kini pertanyaan yang saya ajukan kepada para ulama dan para rohaniawan di dunia Arab, juga kepada para pemimpin di negeri manapun, bukankah kini telah tiba saatnya bagi Islam dan umat Muslim untuk merasakan adanya ancaman? Bukankah kini telah tiba saatnya bagi kalian untuk melaksanakan kewajiban mencegah kemungkaran dan menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim?

Adakah medan peristiwa lain yang lebih nampak jelas di depan mata ketimbang Gaza dan Palestina yang memperlihatkan kerjasama kaum kafir harbi dengan para munafik di tengah umat dalam aksi menumpas kaum muslimin, sehingga kalian baru merasa adanya kewajiban di pundak kalian?

Pertanyaan saya kepada media
massa dan para cendekiawan di dunia Islam, khususnya di dunia Arab, kapan kalian akan mengakhiri sikap tak peduli terhadap kewajiban yang kalian pikul sebagai insan media dan kalangan cendekia? Adakah cela yang lebih besar bagi lembaga-lembaga Hak Asasi Manusia di Barat dan lembaga yang disebut Dewan Keamanan PBB dari apa yang ada saat ini?

Semua mujahid Palestina dan semua insan mukmin di dunia Islam wajib melakukan apa saja yang bisa mereka lakukan untuk membela perempuan, anak-anak dan warga yang lemah di
Gaza. Siapa saja yang terbunuh dalam menjalankan tugas mulia dan suci ini berarti dia mati syahid, dan semoga dia dibangkitkan kelak bersama para syuhada Badr dan Uhud yang berjuang bersama Rasulullah SAW.

Organisasi Konferensi Islam (OKI) harus melaksanakan tugas dan kewajibannya pada situasi yang genting dan bersejarah ini. Organisasi ini hendaknya membentuk satu barisan bersama yang tegas dan tak reaktif dalam menghadapi rezim zionis
Israel. Rezim Zionis harus dihukum oleh negara-negara Islam. Para pemimpin rezim pendudukan itu harus diseret ke pengadilan untuk diadili dan dihukum karena kejahatan ini dan karena aksi blokade berkepanjangan yang mereka lakukan.

Bangsa-bangsa Muslim bisa mewujudkan harapan itu dengan tekad mereka yang kuat. Tugas yang diemban oleh para politisi, ulama dan kaum cendekiawan pada masa yang genting ini lebih besar.

Saya mengumumkan hari Senin sebagai hari berkabung umum untuk mengenang pembantaian sadis di
Gaza dan menyeru kepada para pejabat negara untuk melaksanakan tugas mereka masing-masing terkait peristiwa yang menyayat hati ini.

وَ سَیعلَمُ ‌الذین ظَلَموا اَیّ مُنقلبٍ یَنقلبون

Dan kelak orang-orang zalim akan mengetahui ke tempat mana mereka akan kembali." (Q.S Al-Syu'araa': 227)

Sayyid Ali Khamenei
8 Dey 1387 HS (28 Desember 2008)
29 Dzulhijjah 1429 H
(Sumber: IRIB)

Jumat, 26 Desember 2008

Petemuan Mesir, Iran, Suriah dan Indonesia untuk Gaza

Ketua Parlemen Iran, Ali Larijani dan Ketua Parlemen Mesir, Ahmad Fathi Surur melakukan pembicaran via telepon dan bersepakat mengadakan pertemuan empat negara, yaitu Iran, Mesir, Suriah dan Indoneia, guna membahas mobilisasi bantuan untuk warga Gaza yang diblokade Israel. IRNA melaporkan bahwa guna mempersiapkan pertemuan tesebut, Ketua Kerjasama antar Parlemen se-Asia, Muhammad Hadi Nejad Hoseinian akan mengunjungi Kairo.

Mesir terus mendapatkan tekanan dari Iran dan negara-negara Islam agar membuka lintasan penyeberangan Rafah demi menyelematkan 1 setengah juta warga Gaza yang terancam kelaparan. Sebagaiamana diketahui hampir seluruh negara Arab secara diam-diam mendukung blokade atas Gaza demi melemahkan dan menggulingkan pemerintah Hamas yang didukung oleh Iran.

Senin, 15 Desember 2008

Hamas Peringati Milad ke 21 dengan Petisi Kekecewaan thdp Dunia Arab dan Islam




Senin, 15 Desember 2008

Ismail Haniah hari ini Ahad di hadapan ratusan ribu warga Gaza menyampaikan pidato penuh gelora selama 45 menit.

Sebagaimana ditayangkan secara live oleh telivisi internasiomal Al-Alam, pidato Perdana Menteri Pemerintah Palestina yang sah secara demokratis itu didominasi oleh ungkapan kecewa terhadap sikap negara-negara Arab dan Islam terutama Mesir yang turut menutup jalur perbatasan sehingga menyebabkan derita warga Gaza bertambah.

Haniah juga menyampaikan ajakan terbuka kepada umat Islam dan para pejuang kebebasan dan kemanusiaan dari seluruh agama untuk menunjukkan solidaritas dengan melakukan aksi terobos blokade yang diberlakukan Israel atas Gaza sejak 7 bulan lalu.

"Rakyat Gaza akan tetap bertahan dengan tekad dan semangat memperjuangkan haknya seraya meneladani ketabahan Nabi Muhammad dan keluarganya saat mengalami blokade kaum musyrik Quraisy di Syi’b Abu Thalib," pekiknya disambu suara takbir membahana.

Kamis, 04 Desember 2008

Al-Ghadîr di dalam Alkitab Perjanjian Lama*

Pengantar: dalam artikel ini, Thomas McElwain—seorang filosof, asketis, dan pakar Alkitab—berupaya menelusuri jejak kata al-Ghadir (atau GDUr dalam bahasa Ibraninya) di seluruh Alkitab Perjanjian Lama. Menarik bahwa McElwain menemukan bahwa kata tersebut merujuk kepada figur tertentu di masa depan (dalam konteks periode nabi-nabi Ibrani) yang akan berfungsi sebagai pusat keterjagaan otoritas Tuhan.

Kata ghadîr (dalam bahasa Ibrani: GDUr) di dalam Alkitab muncul sebagai kata Ibrani yang bermakna ‘wall’(dinding) atau ‘fence’(pagar). Dengan makna seperti itu, terjemahan kata tersebut secara umum sudah tepat. Bagaimanapun, kata dinding atau pagar sering digunakan karena paling bermakna dan bahkan secara jelas menjadi cara simbolik—dengan hanya tiga atau empat pengecualian—yang terlihat sangat signifikan dengan peristiwa yang dikenal sebagai al-Ghadir[1] dalam sejarah Islam.
Kemunculan pertama dari kata tersebut terdapat pada kisah Bileam, nabi Persia kuno di dalam Bilangan 22. Nabi tersebut diminta untuk mengutuk hamba-hamba Tuhan. Bukannya menolak, dia malah bertanya kepada Tuhan apakah dia boleh melakukan hal itu ataukah tidak, seraya berharap bahwa Tuhan akan memberinya izin untuk mengambil upah yang ditawarkan kepadanya bagi perbuatan tersebut. Dia telah menentang perintah Tuhan. Inilah subjek yang ditunjukkan Bilangan 22:24[2]:

“But the angel of the LORD stood in a path of the vineyards, a wall (ghadîr) being on this side, and a wall (ghadîr) on that side.”

[“Kemudian pergilah Malaikat TUHAN berdiri pada jalan yang sempit di antara kebun-kebun anggur dengan tembok (ghadîr) sebelah-menyebelah.”]

Bileam tidak melihat malaikat itu tetapi keledainya, yang tengah berusaha memutar arah, menabrakan kakinya ke dinding. Sejak kejadian itu, ghadîr (GDUr) menjadi simbol dari dinding tempat Tuhan menyingkapkan jalan kebenaran, dan juga dinding tempat mereka yang sesat akan melukai pergelangan kaki mereka karena menabraknya. Teks lain yang menggunakan kata tersebut dalam makna pagar atau dinding untuk menunjukkan jalan yang benar terdapat di dalam Ayub 19:8[3].

Kata tersebut juga digunakan sebagai rujukan kepada keturunan Simeon yang menghancurkan sisa-sisa orang Amalek atas perintah Tuhan. Hal ini dikatakan di dalam 1 Tawarikh 4:39-40[4]:

“And they went to the entrance of Gedor, even unto the east side of the valley, to seek pasture for their flocks.”

“And they found fat pasture and good, and the land was wide, and quiet, and peaceable; for they of Ham had dwelt there of old.”

[“39 Oleh sebab itu mereka pindah ke arah Gedor sampai ke sebelah timur lembah untuk mencari padang rumput bagi kambing domba mereka.”]

[“40 Mereka menemui padang rumput yang gemuk dan baik; negeri itu luas, aman dan sentosa; orang-orang yang diam di sana sebelum mereka berasal dari Ham.”]

Para penulis teks Masoretik secara arbitrer telah memvokalisasi kata tersebut menjadi Ghedor tetapi kata tersebut di dalam teks aslinya persis seperti yang terdapat di dalam Bilangan 22. Bagian ini mengisyaratkan adanya simbolisme tahap lanjut bagi kata Ghadîr. Inilah sumber yang tidak diperkirakan mengenai kesempurnaan dan kebahagiaan. Simbolisasi padang rumput bagi hewan ternak telah dikenal lama di dalam teks-teks suci Ibrani dalam hubungannya dengan bimbingan Tuhan, seperti yang terlihat di dalam Mazmur 23 yang terkenal.

Kata Ghadîr tersebut divokalisasikan lagi seperti itu di dalam Ezra 9:9[5].

“For we were bondmen; yet our God hath not forsaken us in our bondage, but hath extended mercy unto us in the sight of the kings of Persia, to give us a reviving, to set up the house of our God, and to repair the desolations thereof, and to give us a wall in Judah and in Jerusalem.”

[“Karena sungguhpun kami menjadi budak, tetapi di dalam perbudakan itu kami tidak ditinggalkan Allah kami. Ia membuat kami disayangi oleh raja-raja negeri Persia, sehingga kami mendapat kelegaan untuk membangun rumah Allah kami dan menegakkan kembali reruntuhannya, dan diberi tembok pelindung di Yehuda dan di Yerusalem.”]

Pendirian tembok di dalam teks tersebut memiliki makna literalnya tetapi ekspresinya, secara khusus di sini, penuh dengan muatan-muatan simbolik. Hal ini diisyaratkan melalui ungkapan to give (‘memberi’). Dinding lahiriah di Yerusalem dibangun melalui tangan manusia tetapi Ghadîr itu sendiri adalah sesuatu yang dianugerahkan oleh Tuhan. Apa yang dianugerahkan adalah penegakan kembali pusat keimanan dan otoritas. Harus diperhatikan bahwa ghadîr dalam situasi tersebut telah ditentang oleh orang-orang Samaria. Dari sudut pandang Islam—meskipun dalam beberapa aspek Islam mempunyai banyak kesamaan dengan Samaritanisme ketimbang Yudaisme—ghadîr di sini muncul sebagai hal yang benar dan sah. Orang-orang Samaria tidak mengakui beberapa nabi yang disebutkan al-Quran sedangkan Yahudi pada masa itu mengakui nabi-nabi tersebut. Maka, ghadîr di Yerusalem dan Yehuda inilah yang membedakan antara otoritas yang diakui Tuhan dengan otoritas kaum Samaria yang tidak diakui (Tuhan). Dengan demikian, terdapat suatu keserupaan yang paripurna antara ghadîr-nya Ezra dan ghadîr yang dikenal dalam sejarah Islam. Teks tersebut juga menyebutkan perihal hubungan dengan orang-orang Persia, yang juga disebutkan di dalam Bilangan 22.

Terdapat dua nubuat lainnya yang bernilai signifikan dalam hubungannya dengan kata ghadîr. Yang pertama ialah Yesaya 58:12[6] yang konteksnya berbicara tentang puasa. Ungkapan relevan yang terdapat di dalamnya ialah “repairer of the breach” (‘yang memperbaiki tembok yang tembus’). Kata tersebut diindikasikan sebagai godeer, sebuah participle (kata kerja yang berposisi sebagai ajektiva atau nomina—peny.) sehingga berarti ‘the one who is fencing up the breach’ (orang yang memagari tembok yang tembus’). Mungkin kata tersebut merupakan bentukan dari kata ghadîr yang berarti ‘the fencing up of the breach’ (‘pemagaran tembok yang tembus’). Apa pun maknanya, kata tersebut merujuk kepada seorang figur manusia. Di dalam ayat 5, kata-kata sang nabi ditujukan kepada kaum yang gagal melaksanakan perintah Tuhan secara benar. Kegagalan itu tampak dari perilaku mereka yang tetap zalim meskipun mereka kerap melaksanakan berbagai bentuk (ibadah) puasa. Kata ganti ye (‘kalian’) berubah menjadi bentuk tunggal[7] (thou ‘kamu’) di dalam ayat 7, dan berawal pada ayat inilah seorang figur manusia dari ghadîr tersebut dijelaskan. Kata-kata yang ada sejak ayat ke 7 tersebut, secara khusus, sangat bermakna apabila diterapkan kepada Imam Ali as, yang diangkat (Nabi saw) di al-Ghadîr[8].

Yesaya 58:7: “Is it not to deal thy bread to the hungry, and that thou bring the poor that are cast out to thy house? when thou seest the naked, that thou cover him; and that thou hide not thyself from thine own flesh?

8 Then shall thy light break forth as the morning, and thine health shall spring forth speedily: and thy righteousness shall go before thee; the glory of the LORD shall be thy rereward.

9 Then shalt thou call, and the LORD shall answer; thou shalt cry, and he shall say, Here I am. If thou take away from the midst of thee the yoke, the putting forth of the finger, and speaking vanity;

10 And if thou draw out thy soul to the hungry, and satisfy the afflicted soul; then shall thy light rise in obscurity, and thy darkness be as the noonday:

11 And the LORD shall guide thee continually, and satisfy thy soul in drought, and make fat thy bones: and thou shalt be like a watered garden, and like a spring of water, whose waters fail not.

12 And they that shall be of thee shall build the old waste places: thou shalt raise up the foundations of many generations; and thou shalt be called, The repairer of the breach, The restorer of paths to dwell in.”

[“7 supaya engkau memecah-mecah rotimu bagi orang yang lapar dan membawa ke rumahmu orang miskin yang tak punya rumah, dan apabila engkau melihat orang telanjang, supaya engkau memberi dia pakaian dan tidak menyembunyikan diri terhadap saudaramu sendiri!

8 Pada waktu itulah terangmu akan merekah seperti fajar dan lukamu akan pulih dengan segera; kebenaran menjadi barisan depanmu dan kemuliaan TUHAN barisan belakangmu.

9 Pada waktu itulah engkau akan memanggil dan TUHAN akan menjawab, engkau akan berteriak minta tolong dan Ia akan berkata: Ini Aku! Apabila engkau tidak lagi mengenakan kuk kepada sesamamu dan tidak lagi menunjuk-nunjuk orang dengan jari dan memfitnah,

10 apabila engkau menyerahkan kepada orang lapar apa yang kauinginkan sendiri dan memuaskan hati orang yang tertindas maka terangmu akan terbit dalam gelap dan kegelapanmu akan seperti rembang tengah hari.

11 TUHAN akan menuntun engkau senantiasa dan akan memuaskan hatimu di tanah yang kering, dan akan membaharui kekuatanmu; engkau akan seperti taman yang diairi dengan baik dan seperti mata air yang tidak pernah mengecewakan.

12 Engkau akan membangun reruntuhan yang sudah berabad-abad, dan akan memperbaiki dasar yang diletakkan oleh banyak keturunan. Engkau akan disebutkan ‘yang memperbaiki tembok yang tembus’, ‘yang membetulkan jalan supaya tempat itu dapat dihuni.”]

Semua ungkapan pada kutipan ayat-ayat di atas dengan sangat baik merepresentasikan karakter dan tindakan-tindakan Imam Ali as. Terdapat banyak riwayat yang mengungkapkan tindakan Imam Ali as memberi makan orang yang kelaparan. Dia juga mengabdikan dirinya untuk ikut mengangkat beban kesulitan manusia dan menghilangkan fitnah serta kepalsuan. Teks tersebut juga menggarisbawahi adanya bimbingan langsung Tuhan yang dianugerahkan kepada sang Imam.

Kemudian, dua bagian di dalam Yehezkiel menyampaikan pesan yang agak berbeda. Keduanya terutama berbicara tentang kegagalan bangsa Israel dalam melaksanakan peran kepemimpinan yang telah dianugerahkan Tuhan untuk menyebarkan monoteisme kepada dunia.

Yehezkiel 13:5[9]: “Ye have not gone up into the gaps, neither made up the hedge for the house of Israel to stand in the battle in the day of the LORD.”

[“Kamu tidak mempertahankan lobang-lobang pada tembokmu dan tidak mendirikan tembok sekeliling rumah Israel, supaya mereka dapat tetap berdiri di dalam peperangan pada hari TUHAN.”]

Ayat ini memunculkan konteks pentingnya proklamasi al-Ghadîr. Baik Yahudi maupun Kristen, keduanya sama-sama gagal dalam menunaikan mandat Tuhan. Oleh karena itu, kegagalan mereka perlu diperbaiki melalui pewahyuan al-Quran, dan penegakan “pagar/tembok” atau ghadîr untuk memelihara tegaknya hukum Tuhan di muka bumi. Teks tersebut juga menyebutkan bahwa bangsa Israel nantinya harus mempertanggungjawabkan kegagalan mereka pada Hari Pengadilan.

Kegagalan yang dimaksud bahkan lebih jelas ditunjukkan di dalam Yehezkiel 22:30[10];

“And I sought for a man among them, that should make up the hedge, and stand in the gap before me for the land, that I should not destroy it: but I found none.”

[“Aku mencari di tengah-tengah mereka seorang yang hendak mendirikan tembok atau yang mempertahankan negeri itu di hadapan-Ku, supaya jangan Kumusnahkan, tetapi Aku tidak menemuinya.”]

Dengan demikian, prinsip Imamah secara khusus mendapatkan keabsahannya bersama Imam Ali as pada peristiwa al-Ghadîr.

Mazmur 62, yang terdiri dari dua belas ayat, merupakan salah satu Mazmur-mazmur yang bernuansa Imamah. Kata ghadîr muncul di dalam ayat 3, salah satu dari rangkaian dua belas yang biasanya mengisyaratkan peristiwa yang dialami Imam Husain as. Keseluruhan Mazmur 62 berkaitan erat dengan topik otoritas Ilahiah. Namun ayat 3 menyentuh persoalan tentang penerimaan atau—dalam hal ini—penolakan terhadap seseorang yang telah ditetapkan Tuhan untuk merepresentasikan otoritas-Nya di muka bumi.

Mazmur 62:3(4)[11]: “How long will ye imagine mischief against a man? ye shall be slain all of you: as a bowing wall shall ye be, and as a tottering fence.”

[“(62-4) Berapa lamakah kamu hendak menyerbu seseorang, hendak meremukkan dia, hai kamu sekalian, seperti terhadap dinding yang miring, terhadap tembok yang hendak roboh?”

Di sini, ghadîr diterjemahkan sebagai ‘fence’(pagar atau tembok dalam terjemahan Alkitab versi LAI). Kata YSh atau ‘a man’ (seseorang) sebagaimana sering digunakan di dalam Mazmur-mazmur memiliki implikasi Imamah, sebagaimana terlihat jelas di dalam Mazmur 1:1[12]. Maknanya ialah bahwa siapa pun yang berniat untuk berbuat jahat terhadap “a man” atau sang imam dan hendak membunuhnya, maka dengan sendirinya ia akan menghancurkan dirinya sendiri. Di sini, sang imam dianalogikan secara langsung dengan ghadîr atau ‘pagar’tembok’ yang membimbing ke jalan yang benar.

Peringatan yang ditujukan kepada mereka yang melanggar kesepakatan al-Ghadîr diulang kembali di dalam Pengkhotbah 10:8[13]:

“He that diggeth a pit shall fall into it; and whoso breaketh an hedge, a serpent shall bite him.”

[“Barangsiapa menggali lobang akan jatuh ke dalamnya, dan barangsiapa mendobrak tembok akan dipagut ular.”]

Sang nabi (dalam ayat di atas) berjanji bahwa barangsiapa yang menistakan kesepakatan al-Ghadîr akan disengat ular. Referensi sebelumnya mengenai lubang (pit) tentu saja bermakna ‘merencanakan makar’ terhadap orang lain. Bagaimanapun, keseluruhan ayat tersebut memiliki sebuah nuansa makna eskatologis, baik yang mengisyaratkan hukuman di alam kubur karena kegagalan mengenal sang imam ataupun hukuman pada Hari Kebangkitan.

[1] Al-Ghadir adalah sebuah peristiwa dalam sejarah Islam, terjadi pada 18 Zulhijjah, ketika Nabi Muhammad saw menyampaikan khotbah terakhirnya. Dalam sebuah riwayat yang mutawatir, di antara bagian terpenting dari khotbah itu adalah, “Wahai manusia! Allah adalah Maula-ku (maula: tuan) dan aku adalah Maula orang yang beriman dan aku memiliki hak yang lebih atas hidup mereka. Dan inilah Ali Maula bagi mereka yang menjadikanku Maula. Ya Allah! Cintailah orang yang mencitainya dan bencilah orang yang membencinya.”

[2] VY'yMD ML'aK YHVH BMSh'yVL HKUrMYM GDUr MZH VGDUr MZH. (Bilangan 22:24 dalam transliterasi dari Ibrani)

[3] Ayub 19:8 :'aUrChY GDUr VL'a 'a'yBVUr V'yL NThYBVThY ChShK YShYM. (transliterasi dari Ibrani); “He hath fenced up my way that I cannot pass, and he hath set darkness in my paths.” (KJV); Jalanku ditutup-Nya dengan tembok, sehingga aku tidak dapat melewatinya, dan jalan-jalanku itu dibuat-Nya gelap. (LAI)

[4] VYLKV LMBV'a GDUr 'yD LMZUrCh HGY'a LBQSh MUr'yH LTSh'aNM. (1 Tawarikh 4:39 dalam transliterasi dari Ibrani)

[5] KY-'yBDYM 'aNChNV VB'yBDThNV L'a 'yZBNV 'aLHYNV VYT-'yLYNV ChSD LPhNY MLKY PhUrS LThTh-LNV MChYH LUrVMM 'aTh-BYTh 'aLHYNV VLH'yMYD 'aTh-ChUrBThYV VLThTh-LNV GDUr BYHVDH VBYUrVShLM. (Ezra 9:9 dalam transliterasi dari Ibrani)

[6] VBNV MMK ChUrBVTh 'yVLM MVSDY DVUr-VDVUr ThQVMM VQUr'a LK GDUr PhUrTSh MShBB NThYBVTh LShBTh. (Yesaya 58:12 dalam transliterasi dari Ibrani)

[7] Dalam bahasa Inggris klasik kata ganti ye dapat diaplikasikan, baik kepada orang kedua tunggal maupun jamak. Sebaliknya, kata ganti thou hanya dapat diaplikasikan kepada ‘orang kedua tunggal’—peny.)

[8] Kata al-Ghadîr di sini merujuk kepada sebuah danau yang berjarak 3 mil dari al-Juhfa. Di tempat inilah Muhammad saw dan para sahabatnya diriwayatkan berhenti dalam perjalanan pulang mereka dari Mekkah ke Madinah untuk menunaikan ibadah haji. Di sini pulalah, Muhammad saw menyampaikan khotbah terakhirnya.

[9] L'a 'yLYThM BPhUrTShVTh VThGDUrV GDUr 'yL-BYTh YShUr'aL L'yMD BMLChMH BYVM YHVH. (Yehezkiel 13:5 dalam transliterasi dari Ibrani)

[10] V'aBQSh MHM 'aYSh GDUr-GDUr V'yMD BPhUrTSh LPhNY B'yD H'aUrTSh LBLThY ShChThH VL'a MTSh'aThY. (Yehezkiel 22:30 dalam transliterasi dari Ibrani)

[11] 'yD-'aNH ThHVThThV 'yL 'aYSh ThUrTShChV KLKM KQYUr NTVY GDUr HDChVYH. (Mazmur 62:3 dalam transliterasi dari Ibrani)

[12] 'aShUrY-H'aYSh 'aShUr L'a HLK B'yTShTh UrSh'yYM VBDUrK ChT'aYM L'a 'yMD VBMVShB LTShYM L'a YShB. (Mazmur 1:1 dalam transliterasi dari Ibrani); [“Berbahagialah orang yang tidak berjalan menurut nasihat orang fasik, yang tidak berdiri di jalan orang berdosa, dan yang tidak duduk dalam kumpulan pencemooh.”] (Mazmur 1:1 dalam terjemahan Alkitab versi LAI)

[13] ChPhUr GVMTSh BV YPhVL VPhUrTSh GDUr YShKNV NChSh. (Pengkhotbah 10:8 dalam transliterasi dari Ibrani)
* Dikutip dari Thomas McElwain, 2006, The London Lectures, Penerbit Citra: Jakarta

Senin, 01 Desember 2008

Mengenal Agen Mossad Dalam Gerakan Islam

Risalah Mujahidin Edisi 7 Th I Rabiul Awal 1428 H / April 2007 M, hal. 42-46
Lihat catatan redaksi *)
imageFAKTA ini tentu amat mengejutkan, bahkan sulit dipercaya. Betapa kelompok Salafy yang selama ini dikenal sebagai kelompok Islam yang berdakwah untuk Ihyaus Sunnah (menghidup-hidupkan sunnah Nabi SAW), gerakan dakwah mereka ternyata didanai oleh jaringan intelejen Israel, Mossad. Tujuannya untuk menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan kaum Muslim.

Badan intelejen Palestina mengijinkan harian Al-Hayat dan Televisi Libanon, LBC, untuk mewawancarai orang-orang Palestina yang menjadi agen Mossad, dan sekarang ditawan oleh pemerintah Palestina. Mereka telah menyebabkan terbunuhnya sejumlah Mujahidin. Dalam sebuah wawancara, salah seorang agen mengungkapkan cara perekrutan mereka serta peranan yang mereka lakukan dalam memantau para mujahidin dan memicu fitnah lewat perselisihan, perpecahan, dan kebencian demi merealisasikan kepentingan strategis Zionisme.

Wawancara ini diterbitkan oleh tabloid An-Nas nomor 127 mengutip harian Al-Hayat yang terbit di London dan juga ditayangkan televisi LBC. Tabloid Al-Basya’ir kembali menyiarkan wawancara tersebut mengingat pentingnya fakta-fakta yang diungkapkan oleh agen ini. Wawancara di bawah ini, yang diterjemahkan oleh Jati Utomo Dwi Hatmoko, M.Sc. , mahasiswa Structural Engineering and Construction Management University of Newcastle Upon Tyne United Kingdom, dan dikutip dari Hidayatullah.com, laporan Bahrum A. Rambe. Berikut hasil wawancara dimaksud:

Wartawan: Bagaimana para zionis itu dapat memperalat anda untuk kepentingan mereka dalam konspirasi dan pengkhianatan terhadap bangsa dan negara anda?

Agen: Awalnya saya membaca iklan di koran lokal tentang adanya pusat studi strategis kemasyarakatan yang bertempat di Singapura, mereka membutuhkan reporter di Tepi Barat untuk melakukan studi sosial dan publisistik tentang lingkungan, kemiskinan, dan lain-lain.

Lalu saya kirim biodata dan ijazah saya. Setelah dua pekan, datang balasan penerimaan saya di lembaga tersebut yang ternyata dikendalikan oleh intelejen zionis Mossad, dan dilaksanakan oleh orang-orang Palestina yang bekerja sama dengan zionisme untuk merekrut orang Arab Palestina dengan cara jahannam yang tidak terpikir oleh siapapun.

Mereka meminta kepada saya untuk menyiapkan laporan kemasyarakatan strategis. Mereka memberi imbalan uang yang cukup banyak. Dari situ, Pusat Studi Strategis palsu itu meminta tambahan laporan-laporan sensitif. Dan saya memenuhinya dengan teratur. Dengan memperhatikan permintaan-permintaan mereka saya mengetahui bahwa lembaga ini ada di bawah Mossad. Tapi saya tidak bisa mundur karena saya sudah memberi laporan-laporan yang sangat sensitif tentang keamanan nasional, tokoh-tokoh Mujahidin, posisi tempat tinggal mereka, dan keberadaan mereka. Informasi ini memudahkan mereka untuk membunuh para Mujahidin terbaik dari Hamas dan Jihad Islami.

Kondisi berkembang sedikit demi sedikit sampai permainan ini tersingkap, mereka memberi kepada saya lisensi untuk menemui orang-orang penting di Tel Aviv. Di sana mereka menyambut saya di sebuah hotel bintang lima. Mereka memberi saya seluruh sarana kenikmatan, tapi ternyata mereka merekam saya ketika berada dalam kondisi memalukan dengan seorang wanita. Hal ini sebagai salah satu cara mereka untuk memperbudak dan mengendalikan saya di kemudian hari.

Dari sini pekerjaan menjadi lebih akurat. Mereka melatih saya seluruh dasar kerja intelejen. Dan komunikasi kami lewat internet, mengirim informasi lewat telepon seluler yang mereka berikan. Dari sini saya mulai mengumpulkan informasi yang paling akurat dan vital tentang tokoh-tokoh intifadhah secara rutin. Posisi saya sebagai reporter, membuat saya dapat bergabung dengan seluruh unsur Mujahidin.

Saya mendapatkan informasi yang sangat penting karena saya dianggap sebagai pejuang. Karena kedekatan saya dengan para pemimpin perlawanan dan pantauan saya terhadap posisi gerakan dan tempat tidur mereka saya telah memudahkan banyak pembunuhan melalui pesawat, penangkapan malam hari atau dengan menembak kendaraan. Dan saya telah merekrut banyak orang untuk kepentingan zionis dengan upah rendah tidak lebih dari 1500 chikel per bulan.

Wartawan: Kami mengetahui bahwa anda dapat mengintervensi beberapa jamaah Islamiyyah, bagaimana itu?

Agen: Sesungguhnya zionis sudah memanfaatkan kepolosan dan ketidak hati-hatian orang-orang Palestina. Kami ditugaskan membuat beberapa situs dengan nama: Palestine Islamiyyah, al-Jihad al-Muqaddas, Tahrir al-Quds, Syababul Intifadhah, dan lain-lain. Dengan situs-situs ini kami berhubungan dengan banyak anak muda yang memiliki semangat jihad. Kami janjikan kepada mereka untuk membiayai mereka dengan uang dan senjata, dengan menyebutkan bahwa dana tersebut bersumber dari orang-orang kaya dari Teluk dan aktivis Islam di Mesir, Yordan dan Kuwait.

Begitulah, kami dapat menembus banyak mata rantai Mujahidin dan merasuk ke dalam tubuh mereka dengan mengatasnamakan Islam dan jihad. Dan yang lebih berbahaya, kami dapat memperalat orang-orang yang bersemangat tinggi, khususnya orang-orang Salafiy untuk menyebarkan buku-buku yang menimbulkan fitnah dan perpecahan di kalangan umat Islam. Buku-buku ini, sebenarnya dicetak dan dibiayai dengan biaya dari Mossad untuk membuat pertempuran marginal antara aktivis Islam, khususnya antara Syi’ah dan Sunnah di Palestina, Pakistan, Yaman, dan Yordan.

Puluhan judul buku-buku yang menyerang Syi’ah dengan cara menjijikkan, dan buku lain yang menyerang Sunnah, sudah dicetak. Dan dimanfaatkan juga orang-orang yang fanatik dari kedua belah pihak, setelah diyakinkan bahwa buku-buku tersebut dicetak oleh para dermawan Teluk dengan cetakan lux. Selebihnya, pekerjaan akan dilakukan oleh mereka yang teripu dari kelompok fanatik Sunnah seperti Salafiyyin dan lain-lain. Tujuan utama dari pencetakan dan penyebaran buku ini, adalah menimbulkan fitnah dan kebencian serta saling mengkafirkan antarpihak dan menyibukkan mereka dengan pertarungan sampingsan sesama mereka, agar Israel dapat merealisasikan tujuannya, yaitu menghancurkan Islam, menelan tanah air, menghapus identitas generasi muda melalui penyebaran dekadensi moral, atau menggunakan orang-orang yang tersingkir di luar kehidupan, fanatik dan keras kepala. Hati mereka penuh dengan kebencian terhadap saudara mereka sesama Muslim, baik Sunnah atau Syi’ah.

Dalam hal ini, jaringan Mossad telah cukup sukses menjalankan missinya. Anda dapat melihat kira-kira semua masjid dan perkumpulan anak muda di Yaman, Pakistan, dan Palestina tenggelam dengan buku-buku ini, yang dicetak dan dibagikan secara gratis; yang dikesankan seolah-olah dibiayai dari kocek para donatur kaya Arab Saudi, padahal Mossad ada di belakang semua ini. Sayang sekali, banyak orang-orang yang tidak menyadari, termasuk para imam masjid, khatib-khatib, dan da’i-da’i yang menyibukkan diri secara ikhlas dan serius dengan menyebarkan buku-buku beracun minimal bisa dikatakan buku-buku lancang dan fitnah. Fitnah lebih berbahaya dari pembunuhan. Karena pikiran mereka sempit, maka mereka tidak berpikir tentang tujuan sebenarnya dari penyebaran buku-buku ini, yang meniupkan kebencian, perpecahan dan fitnah khususnya hari-hari belakangan ini.

Buku-buku ini telah mulai menuai pengaruhnya di Pakistan. Orang-orang yang menyebut dirinya pengikut Ahlu Sunnah wal jama’ah, membentuk Tentara Shahabat dan menyerang kaum Syi’ah dalam ritual dan rumah-rumah, membunuh mereka ketika shalat Shubuh.

Sebuah pembantaian ganas yang menyedihkan meninggalkan ribuan mayat. Di lain pihak membentuk Tentara Muhammad bereaksi dengan balasan yang lebih keras, ratusan orang terbunuh di kedua belah pihak tiap bulan. Pembantaian berdarah, kedengkian, membuat-buat pertempuran sampingan, fitnah yang berbahaya dengan pahlawan Khawarij zaman sekarang, dimanfaatkan oleh Mossad untuk menyulut fanatisme, pengkafiran, pembunuhan, untuk melemahkan negara Islam pertama yang memiliki bom atom, Pakistan.

Sedangkan rencana mereka di Yaman, sampai saat ini pekerjaan masih berjalan dengan serius dan hasilnya sebentar lagi akan bisa dilihat. Namun sangat disayangkan, khusus tentang pemicu fitnah di Palestina, seluruh tujuan tidak tercapai seperti di Pakistan dan Yaman.

Wartawan: Sekarang apakah anda menyesal? Di mana mata hati anda ketika anda menunjukkan tempat-tempat persembunyian tokoh-tokoh perlawanan kepada zionis, agar dibunuh dengan keji beserta keluarga mereka dengan pesawat Apache dan roket-roket mereka?

Agen: Apalah gunanya penyesalan. Saya merasa sedih ketika mereka memusnahkan sebuah bangunan beserta penghuninya hanya untuk membunuh salah seorang Mujahidin yang dicari, di mana operasi ini menyebabkan terbunuhnya 17 anak kecil dan wanita juga sang Mujahid yang dicari. Sayalah penyebabnya, sungguh sayang. Karena itu, saya berhak dihukum dengan hukuman yang diputuskan pengadilan, yaitu eksekusi.

Mengenal Gerakan Agen Mossad
Semangat menghidupkan sunnah Nabi SAW di satu segi, dan memposisikan gerakan Islam di luar komunitasnya sebagai bid’ah, khawarij, dan tuduhan lain yang jauh dari kesan Islami; tanpa dibarengi dengan wawasan ilmu, pemahaman syari’ah dan siyasah secara memadai, membuat mereka mudah diprovokasi dan diperalat musuh-musuh Islam. Banyak gerakan Islam, dalam melawan zionisme dan hegemoni AS, justru diperalat oleh musuh dengan mengusung doktrin zionis tanpa disadari, sehingga mudah dihancurkan.

Penting bagi aktivis Islam untuk mengenal di antara karakteristik ormas, orpol, maupun gerakan Islam, yang kadangkala tanpa disadari menjadi alat musuh untuk menghancurkan Islam. Berdasarkan kajian dan pengalaman karakteristik mereka itu dapat dikenali antara lain:
  1. Mendukung kekuasaan rezim yang zhalim secara apriori, selama penguasa tersebut masih melakukan shalat. Alasannya, karena Nabi memerintahkan taat kepada penguasa Muslim yang masih shalat sekalipun berbuat durhaka atau zhalim. “Enam puluh tahun di bawah penguasa zhalim, lebih baik daripada sehari tanpa pemimpin,” kata mereka. Sementara mereka mengabaikan ayat Al-Qur’an yang melarang membantu orang-orang zhalim yang berkhianat kepada Allah dan rasul-Nya.


  2. Mengklaim pahamnya paling benar tanpa mau diajak dialog mendengarkan hujjah dari pihak Muslim yang dikategorikan sesat.


  3. Mengajak umat untuk menjauhi politik, dan memfokuskan diri dalam aqidah dan ibadah dalam pengertian sempit.


  4. Gemar mengabaikan hujjah lawan sekalipun hujjah itu dari Al-Qur’an dan hadits shahih hanya karena hujjah tersebut tidak berasal dari syeikh-nya.


  5. Mempersempit sumber-sumber pemahaman agama, dan hanya menerima dari ulama panutannya atau pemahaman dari kelompoknya sendiri secara terbatas, dengan menganggap pemahaman jalur lain sebagai bid’ah.


  6. Sangat mengecam perilaku yang dikategorikan tasabbuh dengan golongan kafir dan musyrik. Tapi, mengikuti cara berpikir dan kepemimpinan golongan zionis dengan menempatkan pendapat ulama panutannya melebihi Al-Qur’an dan hadits.


  7. Menampilkan identitas tertentu untuk membedakan diri dengan kelompok lain secara fanatik sebagaimana halnya dengan sekte-sekte di lingkungan Yahudi dan Kristen.


  8. Mengambil ajaran agama dengan mengutamakan hal-hal yang bersifat personal dan keluarga, tapi mengabaikan masalah kenegaraan dan jihad. Hal ini sejalan dengan doktrin Kristen: “Berikan hak Kaisar kepada Kaisar, dan hak Tuhan kepada Tuhan.”


  9. Sangat membenci, bahkan memusuhi gerakan Islam yang menuntut pemberlakuan Syari’ah Islam secara kaffah, terutama ajaran amar makruf nahyu mungkar dan jihad.

Jumat, 28 November 2008

Disertasi tentang Almarhum Ustadz Husein Al-Habsyi


ustadzhusein

Disertasi Bapak Muhammad Tamimi, berjudul “Habib Husein al-Habsyi dan Perannya dalam Perkembangan Syiah di Bangil” baru saja dinyatakan lulus dalam ujian pendahuluan di Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Jogjakarta.

Ustadz Husein Al-Habsyi lahir di Surabaya pada tanggal, 21 April 1921 M. Pada usia yang masih belia beliau sudah harus berjuang sendiri karena ditinggal wafat orang tuanya. Ayah beliau adalah Sayid Abu Bakar Al-Habsyi yang mempunyai garis keturunan dengan Sayid Ali Al-‘Uraidy putra Imam Ja’far Shodiq a.s. Selanjutnya beliau diasuh, dididik dan ditempa oleh pamannya yang ‘Alim dan wara’, yakni Ustadz Muhammad Baraja’.

Beliau masuk pendidikan dasar di Madrasah Al-Khairiyah, sebuah lembaga pendidikan diniah tertua di Surabaya. Pada umurnya 10 tahun beliau sudah aktif mengikuti pengajian rutin yang membahas masalah-masalah fikih, tauhid dan lainnya. Setelah lulus, beliau mengajar di Madrasah tersebut bersama kakaknya, Ustadz Ali Al-Habsyi, yang kemudian bersama-sama hijrah ke Pinang Malaysia. Beliau pernah berguru kepada Ust. Abdul Qadir Balfaqih (seorang ulama besar dan ahli hadis), Syekh Muhammad Robah Hassuna (seorang ulama dari Qolili, Palestina yang berkhidmat mengajar di madrasah Al Khairiyah), Al-Habib Alwi bin Thahir Al-Haddad (seorang mufti kerajaan Johor Baru, Malaysia), Sayid Muhammad Muntasir Al-Kattani (Ulama’ Maghribi, Maroko), dll.

Di Johor beliau juga mengajar di madrasah Al-Aththas dalam kurun waktu yang cukup lama. Berbagai peristiwa politik semasa penjajahan Inggris atas semenanjung Malaysia memaksa beliau untuk meninggalkan negeri tersebut dan kembali ke kampung halamannya di Surabaya .

Sepulang dari Malaysia, Ustadz Husein Al-Habsyi memulai aktifitas dakwah dan banyak berkecimpung di dunia politik. Dalam menapaki jenjang karirnya, beliau sempat menduduki kepengurusan teras bersama DR. M. Natsir dalam Partai Syuro Muslimin Indonesia. Bahkan, beliau terpilih sebagai Ketua Komisi Hak Asasi Manusia.

Sekian lama setelah beliau tidak aktif dalam partai, Ustadz Husein mulai berpikir bahwa perjuangan Islam lebih “absah” melalui pendidikan agama bukan “politik praktis”. Dalam pikirannya terbersit keinginan untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan Islam.

Pada tahun 1970 beliau mendirikan Pondok Pesantren di kota Bondowoso Jatim. Keberadaan beliau di Bondowoso membawa banyak pengaruh bagi perkembangan pendidikan masyarakat di sekitarnya. Setelah dari Bondowoso, karena berbagai hal, akhirnya beliau hijrah ke Bangil. Dan akhirmya membuka Pesantren-Putra di Kenep-Beji, Pesantren-Putri, dan TK di Kota Bangil. Dari kehidupan beliau, hampir seluruh Waktu, tenaga dan pikirannya beliau tercurah untuk kemajuan para santri. Selain mengawasi jalannya seluruh perkembangan di Pesantren, beliau juga mengajar para santri dalam berbagai disiplin ilmu, seperti Bahasa Arab, Ushul Fikih, Tafsir, Tauiyah, dan lain-lain. Metode pembelajaran beliau pun mampu membuahkan hasil yang luar biasa bagi anak didiknya. Hal tersebut terlihat dari alumni-alumni yang mampu tampil sebagai tokoh masyarakat di daerahnya masing-masing. Selain mereka juga dapat dengan mudah melanjutkan pendidikan di berbagai pendidikan tinggi di luar negeri seperti; Mesir, Pakistan, India, Qatar, Saudi Arabiyah dan negara-negara timur tengah lainnya.

Dalam ceramahnya ustadz Husein Al-Habsyi, baik di hadapan santri maupun di hadapan kaum muslimin selalu menekankan akan pentingnya persatuan kaum muslimin, toleransi antar mazhab, menekankan kebebasan berfikir.

Untuk tujuan dakwah, Ustadz Husein Al-Habsyi telah meluangkan banyak waktunya untuk mengadakan safari dakwah dengan menyisir daerah-daerah terpencil kaum muslimin, seperti Sorong, pedalaman Ambon, beberapa daerah di Kalimantan, dan Sulawesi dan Sumatera. Bahkan, di masa akhir hayatnya beliau juga menyempatkan pergi ke negeri Jiran demi meniupkan ruh keterbukaan dan semangat da’wah Islam.

Fitnah demi fitnah dilontarkan oleh pihak-pihak yang tidak menyukai beliau dan misi Islam yang sedang beliau perjuangkan. Sehingga tidak jarang beliau harus berhadapan dengan penguasa pada zaman itu sampai dijebloskan ke dalam penjara. Namun semua itu beliau hadapi dengan penuh kesabaran, ketabahan, dan ruh tawakkal yang luar biasa.

Setelah berpuluh-puluh tahun mengabdikan diri demi Islam dalam dunia pendidikan dan dakwah, beliau memenuhi panggilan Ilahi pada hari Jum’at 2 Sya’ban 1414/14 Januari 1994 di rumah beliau. Beliau dimakamkan pada hari Sabtu 3 Sya’ban 1414/15 Januari 1994 di belakang Masjid Tsaqalain yang terletak di komplek Pesantren Putra “Al-Ma’hadul Islami” YAPI, Desa Kenep Beji Pasuruan.

Kamis, 27 November 2008

Misteri Kehidupan Rumah Tangga Rasulullah saw



Keluarga sakinah adalah idaman setiap manusia. Tapi tidak jarang dari
mereka menemukan jalan buntu, baik yang berkecupan secara materi
maupun yang berkekurangan. Apa sebenarnya rahasianya? Mengapa
kebanyakan manusia sulit menemukannya? Mengapa sering terjadi
percekcokan dan pertengkaran di dalam rumah tangga, yang kadang-kadang
akibatnya meruntuhkan keutuhan rumah tangga?

Padahal Allah swt menyebutkan perjanjian untuk membangun rumah tangga
sebagai perjanjian yang sangat kuat dan kokoh yaitu “Mîtsâqan
ghalîzhâ. Allah swt menyebutkan kalimat “Mîtsâqan ghalîzhâ hanya dalam
dua hal: dalam membangun rumah tangga, dan dalam membangun missi
kenabian. Tentang “Mîtsâqan ghalîzhâ dalam urusan rumah tanggah
terdapat dalam surat An-Nisa’: 21. Adapun dalam hal missi kenabian
terdapat dalam surat An-Nisa’: 154, tentang perjanjian kaum nabi Musa
(as); dan dalam surat Al-Ahzab: 7, tentang perjanjian para nabi: Nuh,
Ibrahim, Musa dan Isa (as).

Bangunan rumah tangga bagaikan bagunan missi kenabian. Jika bangunan
runtuh, maka maka runtuhlah missi kemanusiaan. Karena itu Rasulullah
saw bersabda: “Perbuatan halal yang paling Allah murkai adalah
perceraian.” Sebenarnya disini ada suatu yang sangat rahasia. Tidak
ada satupun perbuatan halal yang paling dimurkai Allah kecuali
perceraian.

Mengapa ini terjadi dalam perceraian? Tentu masing-masing kita punya
jawaban, paling tidak di dalam hati dan pikiran. Dan saya tidak akan
menjawab masalah ini, perlu pembahasan yang cukup rinci dan butuh
waktu yang cukup lama. Tentu perlu farum tersendiri.

Keluarga sakinah sebagai idaman setiap manusia tidak mudah diwujudkan
sebagaimana tidak mudahnya mewujudkan missi kenabian oleh setiap
manusia. Perlu persyaratan-persyaratan yang ketat dan berat. Mengapa?
Karena dua persoalan ini bertujuan mewujudkan kesucian. Kesucian
berpikir, mengolah hati, bertindak, dan generasi penerus ummat
manusia.

Karena itu dalam bangunan rumah tangga, Allah swt menetapkan hak dan
kewajiban. Maaf saya mau pinjam istilah AD/ART. Bangunan yang lebih
kecil missinya dari bangunan rumah tangga punya AD/ART, vissi dan
missi. Bagaimana mungkin bangunan yang lebih besar tidak punya AD/ART,
Vissi dan Missi bisa mencapai tujuan? Tentu AD/ART, Missi dan Missi
dalam rumah tangga, menurut saya, tidak bisa dibuat berdasarkan
mu’tamar atau kongres atau musyawarah seperti layaknya organisasi
umumnya.

Dalam hal rumah tangga kita jangan coba-coba buat AD/ART sendiri,
pasti Allah swt tidak ridha dan murka. Karena itu Allah swt menetapkan
hak dan kewajiban dalam bangunan rumah tangga. Tujuannya jelas
mengantar manusia pada kebahagiaan, sakinah, damai dan tenteram sesuai
dengan rambu-rambu yang ditetapkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Menurut pemahaman saya, tidak cukup AD/ART itu dalam bentuk tek dan
buku, perlu sosok contoh yang telah mewujudkan AD/ART itu. Siapa
mereka? Ini juga perlu farum khusus untuk membahasnya secara detail
dan rinci. Tapi sekilas saja saya ingin mengantarkan pada diskusi
contoh keteladanan rumah tangga yang telah mewujudkan keluarga
sakinah. Dan ini tidak akan terbantah oleh semua kaum muslimin. Yaitu
rumah tangga Rasulullah saw dengan Sayyidah Khadijah Al-Kubra (sa),
dan rumah tangga Imam Ali bin Abi Thalib (sa) dengan Sayyidah Fatimah
Az-Zahra’ (sa).

Disini sebenarnya ada hal yang sangat menarik dikaji, khususnya bagi
kaum wanita dan kaum ibu. Apa itu? Fakta berbicara bahwa Rasulullah
saw banyak dibicarakan oleh kaum laki-laki bahwa beliau contoh
poligami, kemudian mereka melaksanakan dengan dalil mencontoh
Rasulullah saw. Tapi kita harus ingat kapan Rasulullah saw
berpoligami? Dan mengapa beliau melakukan hal ini?

Fakta sejarah berbicara bahwa Rasulullah saw tidak melakukan poligami
selama beliau
berdampingan dengan Sayyidah Khadijah sampai ia meninggal. Mengapa?
Kalau alasannya perjuangan. Bukankah di zaman dengan Khadijah beliau
tidak berjuang? Justru saat-saat itu perjuangan beliau sangat berat.

Dimanakah letak persoalannya? Lagi-lagi menurut saya, pribadi Khadijah
yang luar biasa, sosok seorang isteri yang benar-benar memahami jiwa
dan profesi suaminya. Sehingga Rasulullah saw tidak pernah melupakan
pribadi Khadijah walaupun sudah meninggal, dan disampingnya telah ada
pendamping wanita yang lain bahkan tidak satu isteri.

Kaum wanita khususnya kaum ibu, kalau ingin membangun keluarga sakinah
harus mempelajari sosok kepribadian Sayyidah Khadijah (sa), supaya
suaminya tidak mudah terpikat hatinya pada perempuan yang lain.

Sekarang tentang keluarga Imam Ali dengan Fatimah Az-Zahra (sa).
Sejarah bercerita pada kita bahwa Rasulullah saw sangat menyukai rumah
tangga puterinya dengan kehidupan sederhana bahkan sangat sederhana.
Saking sederhananya, hampir-hampir tidak mampu dijalani oleh
ummatnya, khususnya sekarang. Sama dengan Rasulullah saw, Imam Ali bin
Ab Thalib (sa) selama berdampingan dengan Fatimah puteri Nabi saw
beliau tidak berpoligami. Beliau berpoligami setelah Fatimah Az-Zahra’
wafat. Ada apa sebenarnya dengan dua sosok wanita ini, sepertinya
mereka dapat mengikat laki-laki tidak kawin lagi?

Apakah Rasulullah saw dan Imam Ali (sa) takut pada isterinya? Tentu
jawabannya tidak. Mereka tidak pernah takut dan gentar dalam
menegakkan kebenaran dan keadilan. Lalu mengapa mereka tidak
berpoligasi saat itu? Di sinilah terdapat misteri kehidupan rumah
tangga yang perlu kita gali butiran dan mutiara hikmahnya.

Perempuan sumber sakinah
Perempuan adalah sumber sakinah bukan laki-laki. Mari kita perhatikan
firman Allah swt:

“Di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dia menciptakan untuk kalian
isteri dari species kalian agar kalian merasakan sakinah dengannya;
Dia juga menjadikan di antara kalian rasa cinta dan kasih sayang.
Sesungguhnya dalam hal itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang
berpikir.” (Ar-Rûm: 21).

Dalam ayat tersebut terdapat kalimat “Litaskunû”, supaya kalian
memperoleh atau merasakan sakinah. Jadi sakinah itu ada pada diri dan
pribadi perempuan. Laki-laki harus mencarinya di dalam diri dan
pribadi perempuan. Tapi perlu diingat laki-laki harus menjaga sumber
sakinah, tidak mengotori dan menodainya. Agar sumber sakinah itu tetap
terjaga, jernih dan suci, tetap mengalir pada kaum bapak juga anak-
anak sebagai anggota rumah tangga, dan gerasi penerus.

Kita bisa belajar dari fakta dan realita. Kaum isteri yang sudah
ternoda mata air sakinahnya berdampak pada anak-anaknya sebagai
penerus ummat Rasulullah saw. Siapa yang paling berdosa? Jelas yang
mengotori dan menodainya.