Rabu, 27 Mei 2009

kabah dan bar??????

Apple Mecca Bar di New York!!!

Kaaba Bar

informasi email dari someone tentang proyek pembangunan Apple Mecca di Midtown Manhattan, New York. Kaum Muslim NY sudah bergerak untuk memprotes pembangunan bar ini, karena dianggap sangat menghina Islam yang mengharamkan minuman keras dan budaya telanjang yang kerap terjadi di dalam bar.

Kaaba Bar2

Kaaba Bar3


Possibly related posts: (automatically generated)

Jumat, 22 Mei 2009

Iran Beri Listrik Gratis untuk Pakistan


bageri_d20090521215858375

Iran segera memasok Pakistan dengan 100 megawatt listrik secara gratis, kata Dubes Iran untuk Islamabad, Masya Allah Syakeri.

”Semua pekerjaan lapangan yang terkait dengan proyek ini telah selesai dan pasokan listrik akan dimulai begitu Pakistan menyelesaikan pemasangan saluran-saluran listrik,” kata Syakeri dalam pertemuan dengan Menteri Perhubungan Federal Pakistan, Arbab Alamgir.

Menurut koran Pakistan Dawn, Dubes Syakeri menyatakan bahwa negaranya akan menyalurkan listrik ke pelabuhan Gwadar untuk mengurangi krisis pasokan listrik Pakistan.

Sejak setahun lalu, Iran menyetujui ekspor 1,100 megawatt listrik ke Pakistan untuk mengatasi kekurangan listrik Pakistan di wilayah-wilayah perbatasan kedua negara, terutama di Gwadar.

Bahkan, beberapa bulan lalu, Iran menawarkan turbin-turbin pembangkit listrik tenaga angin turbines ke Pakistan, tapi Islamabad belum sepenuhnya menerima tawaran tersebut. Saat ini, Pakistan diperkirakan kekurangan pasokan listrik lebih dari 3,000 megawatt.

Dalam pertemuan antara Dubes Syakeri dan Menteri Alamgir terungkap adanya keinginan lama kedua negara untuk membangun perusahaan-perusahaan kerjasama di sektor air dan listrik, lebih khususnya di bidang hidroelektrik.

Khamenei: AS Latih “Teroris” di Wilayah Kurdi Irak



Pemimpin tertinggi Iran Ayatullah Ali Khamenei Selasa menuduh Washington telah melatih “teroris” di wilayah Kurdi yang berdekatan dengan Irak.

“Di balik perbatasan barat kita, AS sedang melatih para teroris. Mereka (AS) telah mengeluarkan uang dan membagi-bagkan senjata untuk digunakan melawan republik Islam Iran,” katanya dalam pidato di provinsi Kurdestan di Iran barat yang disiarkan televisi, seperti dikutip dari AFP.

“Orang-orang Amerika itu memiliki rencana berbahaya bagi Kurdistan (Irak)…Rencana mereka tidak ditujukan untuk membela orang Kurdi, tapi mereka ingin menguasai mereka (orang Kurdi),” katanya di kota Sagaz.

“Teman-teman Kurdi kita di sisi lain perbatasan mengatakan pada kami bahwa para pejabat AS telah membayar para pemuda Kurdi di bukit Qandil sebagai pertukaran bagi informasi” (yang mereka berikan),” katanya.

Iran telah menargetkan Partai Hidup Bebas Kurdi (PJAK), kelompok separatis Kurdi Iran, yang telah melancarkan serangan terhadap Iran dari markas pasokan belakang di gunung Kurdi di Irak utara.

Kelompok itu bersekutu dekat dengan Partai Pekerja Kurdistan (PKK) yang telah melancarkan serangan yang sama terhadap Turki. (antara)

Laporan Terbaru! Bush dan Rumsfeld Jadikan Invasi Irak “Perang Salib”



Mantan Menhan AS, Donald Rumsfeld dituduh telah menggunakan kutipan-kutipan dari Alkitab dalam briefingnya kepada George W Bush selama perang Iraq

Kutipan2 ini diletakkan di sampul briefing tersebut disamping gambar-gfambar serdadu AS, demikian laporan dari majalah GQ.

Sementara itu presiden Bush dikritik karena telah menggunakan kata “perang salib” dalam menggambarkan perang AS melawan teroris.

Para pengkritiknya menyebutkan ia membuka ruang bagi kaum Muslimin dalam menjadikan perang ini sebagai perang agama antara Kristen dan Islam

Tindakan tersebut membuat Staf dephan khawatir, menurut GQ. Kalau sekiranya laporan ini jatuh ke tangan public, akan timbul skandal yang “sama buruknya dengan skandal penyiksaan tawanan Abu Ghuraib”

Salah seorang staf yang beragama Islam bahkan menyatakan ketersingungannya dengan kutipan itu, demikian menurut GQ.

Namun pejabat lainnya meragukan kalau Bush membaca laporan itu secara reguler, sehingga Rumsfeld dapat “lolos” dalam menyajikan kutipan itu dalam waktu yang cukup lama.

Keputusan untuk menggunakan kutipan alkitab di halaman cover diambil oleh Mayjen Glen Shaffer, direktur intelijen yang bekerja di bawah Rumsfeld dan Kastaf gabungan, demikian menurut GQ.

Penggunaan kutipan ini banyak dikritik oleh para pengamat AS.

“Jika laporan harian yang banyak memiliki pesan-pesan perang salib ini bocor, maka akan memperkuat dugaan dan kekhawatiran dunia Islam kalau AS sedang melancarkan perang agama” tulis Frank Rich di New York Times

Rumsfeld telah mengambil resiko yang sangat besar bagi keamanan nasional, tambahnya

Satu halaman cover menunjukkan serdadu AS sedang berdoa di tank AS di Iraq, di bawahnya satu kutipan dari kitab Yesaya “Panah mereka tajam, busurnya tergantung, kuda mereka kuat bagai batu, roda kereta perangnya seperti kincir angin”

Laporan lainnya menggambarkan foto presiden Iraq, Saddam Hussein dan dibawahnya kutipan dari Kitab Petrus I : “adalah karena kehendak Tuhan bahwa melalui perbuatan baik engkau harus membungkan ucapan-ucapan sombong dari mereka yang bodoh”.

Reaksi Media AS atas penggunaan kutipan alkitab oleh rumsfeld.

à Saya berpikir mana yang lebih parah: seorang menteri pertahanan yang memasukkan kutipan perjanjian lama dalam laporan perkembangan suatu agresi atas Negara muslim, atau menhan yang menganggap kutipan ini benar-benar akan meningkatkan pengetahuan dan keahlian si presiden”

The Atlantic Monthly’s Andrew Sullivan questions Mr Rumsfeld’s wisdom and judgement. àmempertanyakan pertimbangan dan kebijaksanaan Rumsfeld.

à Apakah ini bukti yang mendukung klaim Rumsfeld sebagai seorang pejuang perang salib jadi-jadian? Bukan, ini lebih kepada bukti bahwa Rumsfeld mencoba berbicara menggunakan bahasa Bush di hari2 pertama perang untuk memberinya kekuatan seiring dengan berjatuhannya korban2 pertama perang.

“Allahpundit”, writing at Hotair.com, takes a more sympathetic view of the former Defence Secretary. àyang melihat mantan Menhan ini secara lebih simpatik

à Siapa yang bisa menduga kalau sesuatu seperti ini bisa membuat orang menduga kita sedang dalam proyek perang salib melawan Islam?


“Hilzoy”, of Obsidian Wings, thinks the Bible quotations could have inflamed Islamic opinion.
àberanggapan kalau kutipan alkitab dapat menbangkitkan amarah kaum muslim.

à Ia dengan sinis memainkan sisi-2 keagamaan untuk memanipulasi dan merayu seorang presiden yang hobi mengutip dari alkitab. Tapi tindakan sang menhan ini tidak saja sekedar licin, dia mengambil resiko yang besar atas keamanan nasional. Kalau laporan-laporan harian yang bernuansa perang salib ini bocor ke public, maka seakan-akan ketakutan Muslimin akan perang agama akhir zaman yang dilakukan Amerika mempunyai kebenaran.

New York Times columnist Frank Rich does not mince his words in his assessment of the Defence Secretary.–> tidak memilah kata-katanya dalam penilaian dia atas Menhan.

Syekh Behjat, Santo dari Fuman Telah Pergi


behjat

Inna lillah wa inna ilaihi raji’un. Telah pergi meninggalkan kita semua seorang sufi, arif, faqih dan ulama terkemuka, Ayatullah Uzhma Syekh Muhammad Taqi Behjat Fumai Najafi.

Kami mengucapkan belasungkawa kepada Rasulullah dan para jejiwa suci penerusnya serta seluruh umat Islam terutama para pecinta dan pengagumnya.

Berikut biografi singkat santo dari Fuman ini:

Ia dikenal sebagai salah satu tokoh arif yang zahid dan memiliki spiritualitas yang amat tinggi. Ia menjalani kehidupan zuhud dalam sebuah rumah yang sangat sederhana yang terletak di sebuah lorong kecil. Berkali-kali ia menolak tawaran dari pengikut dan pengagumnya yang memohonnya untuk berpindah ke rumah yang lebih layak.

Ayatullah Uzhma Muhammad Taqi Behjat Fumani lahir pada penghujung tahun 1334 di kota Fuman. Ayahnya, Mahmud Karbala’i, adalah tokoh agama yang sangat disegani. Ia menyelesaikan pendidikan dasar di Fuman kemudian berhijrah ke kota Qum.

Setelah merampungkan pendidikan menengah dan menguasai bahasa dan gramatika Arab, pada tahun 1348 ia melanjutkan studi agama di kota suci Karbala dan menjadi murid sejumlah ulama besar di sana.

Pada tahun 1352 ia berpindah ke Najaf demi memperdalam studi agama dalam bidang fikih dan ushul fikih di bawah bimbingan Ayatullah Uzhma Muhammad Kazhim Syirazi dan Ayatullah Sayyid Hasan Badkuba’i. Pada tingkat teratas studi, ia berguru kepada Ayatullah Uzhma Syekh Dhiya’uddin Iraqi, Ayatullah Uzhma Muhammad Husain Na’ini, Ayatullah Uzhma Muhammad Husain Gharawi Ishfahani (yang dikenal dengan sebutan Agha Kumpani), Ayatullah Uzhma Sayyid Abul-Hasan Ishfahani, dan terakhir Ayatullah Uzhma Sayyid Abul-Qasim Khu’i.

Pada tahun 1356 ia kembali ke Qum, Iran dan menjadi murid sejumlah ulama besar, antara lain Ayatullah Uzhma Sayyid Hujjat Kuhkamari dan Ayatullah Uzhma Sayyid Husain Burujerdi.

Ia telah mempersembahkan sejumlah karya dalam berbagai bidang, antara lain Tawdhih al-Masa’il dan Hasyiyah ‘alâ Makâsib Syekh Anshari.

Ia juga telah berhasil mencetak banyak ulama. Salah satunya adalah Ayatullah Muhammad Taqi Misbah Yazdi, guru besar filsafat di hawzah ilmiah Qom saat ini.

Selasa, 28 April 2009

Ketika Wahhabi Tabligh Syiah

Situs Al-quran yang beralamat di http://quran.al-islam.com dan di tangani oleh pemerintah Saudi Arabia yang bermazhab wahhabi, ikut tabligh menyebarkan ajaran Syiah. Entah disadari atau tidak oleh wahhabi, dalam situs tersebut, terdapat tafsir surat AlBayyinah ayat 07, yang menafsirkan bahwa sebaik-baik manusia adalah Ali as dan pengikutnya.

Tafsir ini seperti yang terdapat dalam situs itu merujuk pada tafsir At-Tabari. Dikatakannya bahwa, إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ ,أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ ِ "Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh mereka itu adalah sebaik-baik makhluk".

"أُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ" mereka itu adalah sebaik-baik makhluk. Siapakah yang sebaik-baik makhluk itu.? Dalam tafsir At-Tabari yang diriwayatkan dari Ibnu Hamid mengatakan bahwa, Isa bin Farqad dari Abil Jarud dari Muhammadi bin Ali, Rasulullah mengatakan ُولَئِكَ هُمْ خَيْرُ الْبَرِيَّةِ :"Engkau ya Ali dan Syiahmu [Red: pengikutmu]".

Pada saat yang sama pembuatan situs Alquran yang ditangani oleh kerajaan Saudi itu bertujuan untuk menyebarkan mazhab wahhabi.

Silahkan buka link dibawah ini: http://quran.al-islam.com/Tafseer/DispTafsser.asp?l=arb&taf=TABARY&nType=1&nSora=98&nAya=7

Senin, 06 April 2009

Pandangan Islam tentang Keseimbangan dalam Bisnis




Oleh MUHAMMAD ASEP ZAELANI

Etika sebagai ajaran baik-buruk, benar-salah, atau ajaran tentang moral khususnya dalam perilaku dan tindakan-tindakan ekonomi, bersumber terutama dari ajaran agama. Itu sebabnya banyak ajaran dan paham dalam ekonomi Barat menunjuk pada kitab Injil (Bible), dan etika ekonomi Yahudi banyak menunjuk pada kitab Taurat. Demikian pula etika ekonomi Islam termuat lebih dari seperlima ayat-ayat al-Quran. Jika etika agama Kristen-Protestan telah melahirkan semangat (spirit) Kapitalisme, maka etika agama Islam tidak mengarah pada Kapitalisme maupun Sosialisme.

Islam memandang dunia ini bukan sebagai sesuatu yang hina dan harus dihindari, tapi Islam mengajarkan kepada pemeluknya agar bisa manfaatkan dunia ini dengan baik sebagai bekal menuju kehidupan kekal (al-dunya mazra’at al-akhirah). Al-Quran dan Al-Hadits sebagai sumber rujukan utama umat Islam banyak memberikan penjelasan tentang bagaimana sikap terbaik yang harus dilakukan dalam kehidupan dunia ini. Tidak ada satu pun ajaran Islam yang menganjurkan umatnya untuk menjadi pengemis, pemalas, miskin atau perbuatan hina semacamnya. Islam menekankan agar menjadi orang yang memberi, bukan yang meminta; membayar zakat, bukan yang menerima zakat; memberi infak (sedekah), bukan yang menerima infak/sedekah; dermawan, bukan kikir; berlapang, bukan yang sempit; berbuat adil bukan yang menderita; melepaskan perbudakan, bukan untuk menjadi budak dan lain sebagainya. Namun untuk melakukan itu semua tentu harus memiliki harta yang lebih dari cukup (al-yad al-’ulya), bukan orang-orang yang miskin (al-yad al-supla).

Memang ada hadist yang memberikan legitimasi, bahwa umat Islam tidak perlu mengurusi urusan keduniaan, seperti hadits al dunya sijn al mu’minin wa jannat al kafirin. Kebenaran hadits ini perlu dikritisi. Sebab maknanya bertentangan dengan ajaran Islam pada umumnya. Karena itu, hadits ini harus kita tinggalkan agar tidak disalah pahami. Ada juga hadist lain, yaitu ”Ya Allah, hidupkanlah saya miskin, matikanlah saya miskin, matikanlah saya miskin dan bangkitkanlah saya dalam golongan miskin” (allahumma ahyini miskinan wa amitni miskinan wa uhsyurni fi zumrat al masakin). Meskipun hadits ini dianggap shahih, namun jika dimaknai secara harfiah, akan bertentangan dengan fakta sejarah tentang kehidupan Nabi Muhammad SAW. Kehidupan Nabi Muhammad SAW sendiri tidak miskin atau serba kekurangan harta. Dalam catatan sejarah, makanan beliau, kendaraan beliau, pakaian beliau tergolong kelas atas. Hadits ini juga bertentangan dengan doa Nabi Muhammad SAW yang lainnya, ”Ya Allah, sesungguhnya aku memohon perlindungan-Mu dari kekufuran dan kefakiran” (allahumma inni a’udzubika min al kufr wa al faqr).

Selain memberikan kebebasan kepada pemeluknya untuk melakukan usaha (bisnis), Islam juga memberikan beberapa prisip dasar yang menjadi etika normatif yang harus dita’ati ketika seorang muslim akan dan sedang menjalankan usaha. Beberapa prisnsip di bawah inilah yang akan sangat jelas membedakan antara prinsip ekonomi islam dengan prinsip kapitalisme dan sosialisme.

Pertama, proses mencari rizki bagi seorang muslim merupakan suatu tugas wajib. Hal ini sesuai dengan sabda Rosulullah Saw bahwa ”Berusaha untuk mendapatkan penghasilan halal merupakan sebuah kewajiban, disamping tugas-tugas lain yang diwajibkan” (HR Al Baihaki). Dalam kaidah ushul fiqh definisi wajib adalah ”huwa ma yusabu ala filihi wayu’aqobu ala tarkihi” artinya sesuatu yang akan menjadikan berdosa ketika kita dengan sengaja tidak melakukannya. Dalam surat At taubah ayat 105 ”Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rosul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu”.

Kedua, rizki yang kita cari haruslah rizki yang halal. ”Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba” (QS Al Baqarah ayat 275). Dengan sangat tegas nabi Muhammad Saw, sebagaimana diriwayatkan oleh Jabir, pernah bersabda, ”Daging yang tumbuh dari suatu yang haram tidak akan masuk surga, sedangkan neraka lebih sesuai bagi semua daging yang tumbuh dari sesuatu yang haram”.

Ketiga, disamping itu kejujuran dalam menjalankan usaha menjadi suatu keharusan. Abu Sa’ad meriwayatkan bahwa Rosulullah Saw berkata , ”Pedagang yang jujur dan dapat dipercaya akan dimasukkan dalam golongan para nabi, orang-orang jujur dan para syuhada” (HR Tirmidzi). Sehingga segala bentuk ketidak adilan dan ketidak jujuran dalam bisnis sangat tidak bisa ditolelir (diharamkan) oleh ajaran Islam.

Keempat, semua proses yang dilakukan dalam rangka mencari rizki, haruslah dijadikan sebagai sebuah sarana untuk lebih mendekatkan diri kepada Allah SWT. Ridho Allah merupakan tujuan utama dari aktifitas bisnis kita. Dengan prinsip ini, Islam mengajarkan kepada pemeluknya bahwa keuntungan berupa materi (harta dan kekayaan) bukan menjadi target utama dari usaha/pekerjaan yang kita jalankan. Keutungan berupa materi hanya salah satu dari karunia yang akan Allah berikan. ”Apabila telah ditunaikan sembahyang, maka bertebaranlah kamu dimuka bumi dan carilah karunia Allah dan ingatlah Allah sebanyak-banyaknya supaya kamu beruntung” (QS Al Jumu’ah ayat 10).

Kelima, bisnis yang akan dan sedang dijalankan jangan sampai menimbulkan kerusakan terhadap lingkungan hidup. Aspek kesinambungan dan keselarasan dengan alam menjadi suatu keharusan. Islam memberikan keistimewaan bagi manusia untuk menjadi khalifah di alam dunia ini. Sehingga sebagai khalifah yang amanah kita harus bisa mengatur kehidupan ini agar bisa lebih berkeadilan tidak hanya untuk manusia tapi juga terhadap semua makhluk Allah yang lainnya termasuk terhadap lingkungan. Harus ada perubahan paradigma bahwa seluruh kekeyaan alam ini bukan merupakan warisan dari nenek moyang kita, yang bisa dengan bebas kita pergunakan atau bahkan dihabiskan dengan seenaknya, tapi kekeyaan alam ini merupakan titipan dari anak cucu kita. Dengan kerangka fikir seperti ini maka kita dituntut untuk lebih arif dan bijaksana dalam mengelolanya karena suatu saat titipan tersebut harus dikembalikan kepada yang punyanya. Masih ada anak cucu kita yang akan meneruskan kehidupan di muka bumi ini.

Keenam, persaingan dalam bisnis bukan menjadi perso’alan yang tabu, tapi justru persaingan dijadikan sebagai sarana untuk bisa berprestasi secara fair dan sehat (fastabikul al khayrat). Kalau Allah tidak menghendaki adanya persaingan, maka tentu Allah tidak akan menciptakan kita dalam beragam kultur, etnis dan budaya yang berbeda. Adanya persaingan justru harus bisa memacu umat Islam untuk menjadi umat yang terbaik (khairu ummat). Saingan atau lawan dalam dunia bisnis bisa dijadikan sebagai partner bagi kita untuk memicu dan mendorong kita agar menjadi manusia-manusia yang kreatif yang terus berinovasi untuk mengeluarkan produk-produk baru.

Ketujuh, dalam menjalankan bisnis kita tidak boleh berpuas diri dengan apa yang sudah didapatkan. Islam mendorong pemeluknya untuk menjadi manusia-manusia yang tidak pernah puas dengan apa yang telah dicapai dan selalu haus akan adanya penemuan-penemuan baru. Hal ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Alam Nasyrah ayat 7 ”Apabila kamu telah selesai dari suatu urusan, maka kerjakanlah dengan sungguh-sungguh urusan yang lain”.

Kedelapan, menyerahkan setiap amanah kepada ahlinya, bukan kepada sembarang orang, sekalipun keluarga sendiri. Rosulullah Saw berkata, ”Jika suatu urusan diserahkan kepada (orang) yang bukan ahlinya, tunggulah saat kehancurannya”. Dari hadist ini menunjukan harus adanya prinsip profesionalisme kerja dalam Islam. Dalam surat An Nisa ayat 58, Allah SWT berfirman ”Sesungguhnya Allah memerintahkan kepada kamu untuk menyerahkan amanat kepada ahlinya dan jika kamu memutuskan suatu perkaran diantara manusia, hendaknya kamu putuskan dengan adil”.

Ketika dalam perjalanan usahanya membawa keuntungan berupa materi (sukses) maka dengan sangat indah Islam juga memberikan beberapa tuntunan.

Pertama, keuntungan yang kita dapatkan tidak semata-mata karena hasil kerja keras kita saja, namun kesemuanya itu tidak terlepas dari adanya bentuk pertolongan yang sudah diberikan Allah SWT kepada kita. Bagi setiap pengusaha muslim yang sukses dalam bisnisnya tidak diperbolehkan untuk merasa sombong dengan hasil yang sudah diperolehnya itu. Seorang muslim harus bersyukur kepada Allah SWT atas rizki yang telah dia dapatkan tersebut. Bahkan Allah SWT berjanji dalam surat Ibrahim ayat 7 ”Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah nikmat kepada kamu. Dan jika kamu mengingkari nikmatku, maka sesungguhnya azabku sangat pedih”. Menurut Imam Al Ghazali, ketika kita bersyukur atas nikmat yang diberikan oleh Allah SWT maka Allah akan memberikan dua manfa’at ; 1) Ketika kita bersyukur, maka keuntungan yang telah didapatkan akan diikat oleh Allah SWT, rizki yang telah kita dapatkan tidak akan pergi dari kita. 2) Ketika kita bersyukur, maka Allah SWT akan terus melipatgandakan keuntungan yang telah kita dapatkan tersebut.

Kedua, dalam setiap keuntungan yang kita dapatkan, terdapat hak-hak orang lain. ”Sesungguhnya pada hartamu ada bagian untuk orang lain” (Q.S. Adz-Dzaariyat: 19). Caranya bisa dalam bentuk mengeluarkan zakat, infak atau sodaqoh. Dalam hal ini Islam mencoba mengajarkan kepada pemeluknya bahwa ketika suskes jangan lupa untuk bisa berbagi dengan orang lain yang mungkin nasibnya tidak seberuntung kita. Sehingga rasa kekeluargaan dan kebersamaan antar anggota masyarakat bisa terus terjalin dengan baik. Ada sebuah pameo dalam bahasa inggris yang sangat sesuai dengan konsep anjuran dan keutama’an dari bersedekah bahwa ”if you give one, you will get more” jika kita memberi satu maka kita akan mendapatkan lebih dari apa yang telah kita keluarkan.

Ketiga, suksesnya bisnis kita pasti juga ditunjang oleh hasil kerja keras sebuah tim/karyawan. Praktek-praktek eksploitasi dan kesewenang-wenangan pemilik bisnis terhadap karyawan dengan melakukan jam kerja yang tidak manusiawi, upah yang sangat rendah, PHK yang sepihak, jaminan kesehatan yang minim sampai kepada tidak adanya jaminan kepatian kerja sangat dijauhi oleh Islam. Islam justru sangat menekankan pentingnya untuk berterimaksih kepada mereka. Dalam salah satu hadistnya, ”Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk membayarkan upah kepada karyawan, sebelum keringat mereka mengering”.

MUHAMMAD ASEP ZAELANI,
Mantan Santri Karya Pesantren Daarut Tauhiid (DT) Bandung